Peluang pendanaan melalui skema pengembangan sustainable livelihood yang paling rasional dan berdampak pada pelestarian HLSL adalah melalui pengembangan ekowisata.  Ekowisata merupakan upaya strategis untuk meanfaatkan hutan dari segi nilai ilmiah dan keindahannya. Pengembangan ekowisata akan dikelola masyarakat itu sendiri. Pada tahap awal pengembangan ekowisata akan dimulai di Kampung Lesan Dayak dan nantinya dikembangkan ke kampung-kampung lainnya.

Salah satu langkah yang ditempuh dalam rangka  membangun ekowisata di HLSL antara lain OWT bekerjasama secara intensif dengan Opwall dengan target HLSL masuk sebagai salah satu jaringan destinasi wisata yang difasilitasi oleh Opwall. OPWALL (Operation Wallacea Ltd) adalah sebuah lembaga penelitian dan wisata ilmiah internasional yang mempunyai lokasi kerja di 15 negara berbasis di Inggris. Opwall telah bekerja di Indonesia sejak tahun 1998 berlokasi di Buton, Sulawesi Tenggara. Tiap tahunnya memobilisasi ± 3.000 orang. Para siswa dan mahasiswa serta peneliti tersebut belajar di negara-negara dengan keanekaragaman hayati yang tinggi termasuk Indonesia. Mereka mengistilahkannya dengan summer camp. HLSL adalah lokasi yang dipilih untuk kategori darat/hutan yang dihubungkan dengan destinasi wisata laut di Pulau Derawan.

Kegiatan fasilitasi Opwall untuk mengembangkan wisata di HLSL telah dikomunikasikan sejak tahun 2016. Setelah berbagai pertimbangan dan kajian akhirnya kegiatan ini mulai memperlihatkan titik terang untuk terlaksana dengan berbagai persyaratan dan masukkan. OWT telah mengundang Opwall untuk melakukan survey pendahuluan pada April 2017. Pada tanggal 16-21 Juli 2018 Opwall kembali melakukan survey dan peninjauan lebih dalam dengan berkunjung langsung ke HLSL dan Derawan.  Survey dipimpin oleh Direktur Opwall (Timothy Coles) dan sales promotion Opwall (Steven Oliver). Setelah kunjungan pertama Opwall kembali mengutus tim mereka dengan kegiatan yang hampir sama namun lebih menyampaikan teknis kegiatan nantinya. Tim survey adalah tim teknis terdiri dari country manager (Haanah Voss) dan rescue diver (Katie Bell) yang bertugas untuk memastikan lokasi dan keselamatan para siswa.  Kunjungan Opwall yang kedua tersebut bertujuan untuk :

  • memastikan kesiapan dan dukungan pihak kampung dan masyarakat terkaut rencana pengembangan ekowisata di HLSL
  • Memastikan fasilitas pendukung ekowisata, antara lain: akomodasi wisata, fasilitas kesehatan, pendukung keselamatan, dan lain-lain
  • Memastikan rute yang akan dilalui dalam pelaksanaan ekowisata
  • Mencari operator diving yang mau diajak bekerjasama dalam kegiatan ini.

Rincian kegiatan survey persiapan ekowisata HLSL adalah sebagai berikut:

  1. Kunjungan di camp rehabilitasi orangutan di Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Labanan yang dikelola Centre for Orangutan Protection (COP). Pada survey I pihak Opwall tertarik dengan lokasi yang nyaman dan tenang sehingga memutuskan bekerjasama dengan COP sebagai tempat singgah siswa. Di lokasi ini siswa akan diberikan penjelasan dan presentasi tentang kegiatan COP dan tentang orangutan. Siswa akan dijamu makan siang setelah perjalanan dari bandara Kalimarau, Tanjung Redeb. Waktu yang dialokasikan untuk kegiatan ini 1- 2 jam. COP juga diharapkan dapat menjual berbagai cinderamata yang berhubungan dengan orangutan seperti baju kaos, topi, gelang dan barang-barang lain yang menunjukkan keunikan Borneo. Survey ke dua dilakukan untuk menyampaikan teknis pelayanan makan siang dan presentasi kepada siswa. Tim memeriksa kelengkapan meja dan kursi dan memeriksa dapur yang akan digunakan untuk memasak makanan. Tim menyarankan untuk tidak memasak makanan gabungan antara daging, ikan-ikanan dan sayuran. Hal ini dimaksudkan untuk membedakan antara siswa yang vegetarian dan siswa yang bukan vegetarian. Dalam menu makanan juga dilarang untuk memasukkan jenis kacang-kacangan seperti kacang tanah, kacang mete dan kacang-kacangan lain. Diharapkan dapat menyajikan buah-buahan tropis yang akan membuat daya Tarik para siswa.
  2. Kunjungan ke Kampung Lesan Dayak sebagai salah satu pintu masuk ke kawasan HLSL. Opwall mengharapkan masyarakat Lesan Dayak dapat mendukung kegiatan melalui penyewaan rumah mereka sebagai tempat tinggal siswa (homestay) yang akan berwisata khusus di HLSL. Tim Opwall menjelaskan persyaratan dan ketentuan-ketentuan untuk siswa tinggal. Di Kampung Lesan Dayak Opwall akan memesan sebanyak ± 20 kamar. Setiap kamar diisi 2 orang siswa jenis kelamin sama. Pendamping atau guru ditempatkan di kamar sendiri dengan fasilitas sama dengan siswa. Rumah atau kamar yang akan disewakan memiliki persyaratan kamar dapat dikunci, terdapat 2 tempat tidur (ranjang) untuk 2 orang, berkelambu, dan mempunyai toilet bersih. Kampung diharapkan menyediakan tempat pertemuan dan tempat makan yang sama dengan catatan di COP Borneo. Menunya bisa saja nasi sayur (tanpa kacang-kacangan), tempe, buah-buahan dan air putih. Pihak kampung diharapkan memperhatikan kebersihan dan diharapkan dapat mengatasi anjing-anjing yang banyak berkeliaran karena sebagian dari anjing-anjing tersebut kurang sehat. Melihat hal ini Opwall memberikan tawaran kepada masyarakat untuk menghadirkan dokter hewan. Tim Opwall juga mengunjungi puskesmas pembantu (pustu) yang ada di kampung untuk melihat fasilitas kesehatan yang tersedia. Tim bertemu dengan tenaga medis yang terdiri dari perawat dan bidan. Di pustu tersedia beberapa obat P3K termasuk tabung oksigen yang bisa mendukung kegiatan Opwall nantinya. Tim juga memeriksa persediaan obat anti bisa ular namun tidak tersedia dan obat tersebut hanya tersedia di Puskesmas kecamatan di Kelay. Untuk itu tim langsung menuju Puskesmas Kelay untuk mencari informasi tentang hal ini sekaligus melihat fasilitas-fasilitas lainnya seperti, ambulance, fasilitas penanganan tulang patah, fasilitas pendingin obat dan lain-lain. Mereka juga mengharapkan Puskesmas bisa menyediakan anti rabies ketika musim Opwall berjalan. Tim Opwall mendapatkan banyak penjelasan dari kepala Puskesmas langsung. Tim juga melihat penginapan di Kelay sebagai alternatif bagi penginapan siswa.
  3. Camp Lejak di kawasan HLSL. Perjalanan ditempuh menggunakan perahu ketinting. Dalam survey ini dihitung waktu dan jarak serta melakukan observasi potensi yang dapat dilihat sepanjang perjalanan. Waktu tempuh dari kampung Lesan Dayak ke Lejak adalah 50 menit dengan melawan arus dan 40 menit ketika kembali karena mengikuti arus. Di camp Lejak tim melakukan pengamatan camp, jalur yang akan digunakan siswa, ketersediaan air bersih, fasilitas MCK, tempat pertemuan siswa, fasilitas pendukung lainnya ketika situasi darurat seperti radio panggil, dan pendaratan helikopter. Beberapa catatan yang diberikan antara lain persiapan camp nantinya dapat dibantu oleh rekanan Opwall di Buton yang telah berpengalaman lama dalam pembangunan camp Opwall. Untuk track yang akan dilalui para siswa agar dibersihkan dari hal-hal berbahaya seperti duri rotan dan lain-lain. Mereka juga melihat potensi pohon-pohon besar yang bisa dijadikan praktek siswa memanjat pohon dengan tali atau yang lebih dikenal dengan canopy access. Tim sangat terkesan dengan keanekaragaman hayati HLSL karena dalam kesempatan ini mereka dapat melihat sarang orangutan, bekantan, monyet, biawak, ular, dan berbagai jenis burung.
  4. Tanjung Batu. Hasil penghitungan jarak dan waktu tempuh perjalanan darat dari Lesan Dayak menuju Tanjung Batu adalah 6 jam.Tempat ini merupakan daerah yang dilalui sebelum menuju Pulau Derawan. Di lokasi ini dilakukan kegiatan survey untuk melihat fasilitas keselamatan penyelaman yaitu diving chamber. Dive chamber ditempatkan di Puskesmas Tanjung Batu dan merupakan fasilitas pemerintah yang dipersiapkan untuk mendukung pariwisata di Berau yang berfungsi sebagai peralatan keselamatan penyelam. Tim Opwall meninjau apakah fasilitas ini berfungsi dengan baik atau tidak. Hasil peninjauan adalah belum bekerja maksimal karena belum ada Perda yang mendukung beroperasinya alat tersebut. Telah tersedia dokter dan tenaga kesehatan yang telah dilatih untuk mengoperasikan alat tersebut. Opwall berkoordinasi dengan kepala Puskesmas dan dokter yang menjadi operator alat tersebut.
  5. Pulau Derawan. Perjalanan dari Tanjung Batu menuju Pulau Derawan ditempuh menggunakan speed boat. Di pulau ini tim Opwall bernegosiasi dengan beberapa operator penyelam agar bisa bekerjasama dengan Opwall untuk mengajarkan pengenalan penyelaman kepada para siswa. Selain bernegosiasi dengan beberapa operator penyelaman tim juga melakukan pemeriksaan fasilitas lainnya termasuk fasilitas penginapan dan makanan yang disediakan, fasilitas kesehatan dan ketersediaan dokter jika terjadi keadaan darurat di laut seperti tersengat pari, ubur-ubur atau kejadian lainnya. Tim juga memeriksa secara langsung calon lokasi belajar menyelam siswa untuk mengetahui kedalaman, arus, jarak dan waktu ke lokasi penyelaman, perangkat keselamatan dan lain-lain. Rescue diver juga melakukan simulasi kondisi penyelaman dengan beberapa situasi seperti pada saat air pasang, air surut, pagi dan sore hari. Dalam kesempatan ini dilakukan diskusi dengan beberapa pihak termasuk mantan staff Opwall yang sekarang bekerja di Derawan sebagai instruktur selam di salah satu operator selam terkenal di Derawan. Dari hasil pantauan bahwa fasilitas pendukung adanya wisata di daerah ini cukup memadai dan mendukung untuk dilakukan pengembangan wisata. Selama 3 hari melakukan diskusi dan negosiasi dengan beberapa operator selam tim tertarik, memutuskan dan melakukan tandatangan kontrak dengan salah satu operator selam yang mempunyai fasilitas dan sesuai dengan keinginan pihak Opwall.
  6. Perjalanan selanjutnya menuju Tanjung Redeb untuk mengunjungi Rumah Sakit Daerah Abdul Rivai, RS yang terbesar dan terbaik di kota ini. Di RS ini sebelumnya telah dilakukan survey hanya untuk memastikan ketersediaan serum anti bisa ular dan bisa lainnya sebagai antisipasi ketika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan bagi siswa.
Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

clear formSubmit

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.