Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) sebagai salah satu kawasan konservasi dengan kenakeragaman hayati yang tinggi, tidak luput dari tekanan terhadap ekosistemnya yang pada gilirannya dapat mengancam kelestarian kawasan tersebut. Berbagai gangguan yang telah mengancam kelestarian kawasan TNBBS, antara lain : perambahan (encroachment), penebangan liar (illegal logging), perburuan satwa liar (llegal poaching), dan invasi jenis tumbuhan invasif.

Berdasarkan Citra Landsat tahun 2002 menunjukkan bahwa kawasan TNBBS telah mengalami degradasi seluas ± 57.089 ha (17,5 %) yang diakibatkan oleh perambahan hutan dan illegal logging, sedangkan berdasarkan data TNBBS tahun 2005 menunjukkan bahwa luas kerusakan hutan yang khusus disebabkan oleh perambahan mencapai 52.981 ha terutama tersebar di Sekincau, Suoh, dan Rata Agung dengan jumlah Kepala Keluarga (KK) mencapai 26.491 jiwa.  Umumnya kegiatan perambahan tersebut dilakukan untuk mengkonversi lahan menjadi pemukiman dan tanaman komersial terutama kopi, lada, kakao, padi, nilam, dan tanaman komersial lainnya.  Salah satu areal perambahan adalah di daerah Pedamaran yang masuk dalam wilayah Resort Way Nipah, SPTN I Sukaraja, BPTN Wilayah I Semaka, dimana para perambah didominasi oleh suku Jawa (95,2%).

Sebagai salah satu upaya dalam penanganan perambahan, maka pada tanggal 19-23 November 2013 telah dilakukan Operasi Terpadu pemulihan kawasan hutan TNBBS di daerah Pedamaran yang melibatkan TNI POLRI.  Operasi ini telah berhasil mengeluarkan para perambah dari dalam kawasan dan pemusnahan gubuk. Meskipun dalam operasi tersebut juga telah dilakukan pemusnahan tanaman eksotik, namun pada kenyataannya hingga kini tanaman eksotik masih tumbuh subur di bekas lokasi perambahan. Untuk itu perlu upaya pemulihan fungsi kawasan melalui restorasi ekosistem.

Yayasan Operasi Wallacea Terpadu (OWT) dengan dukungan pendanaan dari UNESCO, sejak April 2014 telah memulai proyek Restorasi Ekosistem Berbasis Masyarakat di daerah Pedamaran Resort Way Nipah Register 22 B Kubu Nicik.  Kegiatan restorasi yang dilakukan di Pedamaran memiliki tantangan cukup berat karena areal yang akan direstorasi adalah areal bekas perambahan di mana pemukiman para perambah berbatasan langsung dengan rencana areal restorasi.

Keberhasilan upaya pengeluaran perambah dari kawasan harus dilanjutkan dengan restorasi ekosistem kawasan, karena upaya pengeluaran perambah saja hanya akan berhasil pada kurun waktu sementara, pada gilirannya mereka akan kembali melakukan pengelolaan tanaman budidaya di areal perambahan pada setiap kesempatan yang ada.  Masyarakat harus diberi kesibukan melalui kegiatan-kegiatan positif baik yang mendukung upaya pemulihan fungsi ekosistem maupun usaha peningkatan mata pencaharian lestari yang tidak mengganggu fungsi kawasan.

Keberhasilan restorasi ekosistem di daerah Pendamaran ini menjadi sebuah pembelajaran penting karena melibatkan masyarakat bekas perambah untuk merestorasi areal bekas rambahannya.  Untuk itu OWT melakukan empat tahap kegiatan dalam restorasi ekosistem kawasan TNBBS, yaitu (i) Fase Diagnostik (mengetahui inisiasi yang sudah ada serta status kondisi aspek biofisik maupun sosial ekonomi dan budaya sebelum intervensi), (ii) Fase Peningkatan Kapasitas (meningkatkan pengetahuan, keahlian, dan kesadaran masyarakat serta staf TNBBS tentang restorasi ekosistem), (iii) Fase Pengelolaan Kolaboratif (pelaksanaan tahapan restorasi dengan melibatkan masyarakat dan TNBBS), dan (iv)  Exit Strategy (memfasilitasi pengakhiran pendampingan secara perlahan untuk memastikan bahwa seluruh inisiasi dan fasilitasi yang dilakukan sepenuhnya dilanjutkan oleh pemangku kepentingan kawasan taman nasional)Adapun beberapa strategi pendekatan yang dilakukan adalah sebagai berikut :

  1. Melakukan koordinasi secara intensif dengan pihak TNBBS dalam pelaksanaan seluruh tahapan restorasi ekosistem
  2. Bersama dengan TNBBS memfasilitasi pembentukan kelompok tani restorasi ekosistem sebagai ujung tombak pelaksana seluruh tahapan kegiatan restorasi ekosistem
  3. Memberikan Pelatihan tentang Teknik Budidaya Tanaman dan Restorasi Ekosistem kepada masyarakat dan staf TNBBS untuk mendukung peningkatan mata pencaharian masyarakat yang tidak menganggu fungsi kawasan serta pelatihan untuk mendukung upaya restorasi ekosistem.  Melalui pelatihan tersebut masyarakat diberikan pengetahuan tentang pembibitan secara generatif maupun vegetatif untuk tanaman kehutanan, hortikultura, dan buah-buahan. Masyarakat juga diberikan pelatihan tentang pembuatan pupuk organik dan teknik penanaman.  Semua sarana dan prasarana pelatihan (termasuk persemaian) harus tersedia sebelum pelaksanaan pelatihan.  Pengetahuan dan keahlian yang diperoleh menjadi modal penting bagi upaya pengembangan restorasi ekosistem pada areal lainnya.
  4. Melakukan kegiatan penyadartahuan masyarakat tentang lingkungan melalui pemutaran film dan penyebaran bahan-bahan penyadaran seperti poster, baliho, kaos, dll.
  5. Melibatkan masyarakat (kelompok tani) sebagai pelaku utama dan staf TNBBS (PEH, penyuluh, dan polhut) pada semua tahapan kegiatan restorasi ekosistem, yang meliputi : analisis vegetasi, pemetaan batas blok dan petak-petak restorasi, pembangunan persemaian kampung, pengumpulan materi genetik jenis asli untuk produksi bibit, pembibitan, pemeliharaan persemaian, penanaman, pemeliharaan tanaman, hingga pengamanan tanaman/areal restorasi.
  6. Pendampingan lapangan secara intensif kepada masyarakat (kelompok tani) oleh staf OWT yang memiliki kemampuan teknis dan tinggal langsung di lapangan untuk mengawal seluruh tahapan kegiatan restorasi ekosistem serta memastikan tahapan tersebut berjalan sesuai dengan prosedur.
  7. Kebutuhan bibit untuk restorasi harus diproduksi sendiri oleh kelompok tani melalui pendampingan intensif oleh staf OWT, bukan diperoleh dari luar Pedamaran.  Melalui persemaian kampung, anggota kelompok tani akan belajar cara pembibitan yang baik dan benar untuk menghasilkan bibit berkualitas.
  8. Mengedapankan transparansi terutama terkait pendanaan dalam setiap tahap kegiatan restorasi yang dibahas dengan anggota keolompok tani
  9. Mendokumentasikan dan mempromosikan berbagai praktik cerdas restorasi ekosistem
  10. Mencari peluang sumber-sumber pendanaan bagi keberlanjutan pemeliharaan kawasan yang telah direstorasi atau peluang perluasan areal restorasi baik dari sumber pendanaan dalam negeri maupun luar negeri yang tidak mengikat.

Berdasarakan uraian di atas maka strategi penanganan perambahan yang dilakukan di daerah Pedamaran adalah (1) Pengeluaran perambah dari kawasan melalui Operasi Terpadu, (2) Koordinasi intensif dengan pihak TNBBS, (3) Peningkatan kapasitas masyarakat bekas perambah, (4) Penyadartahuan masyarakat bekas perambah, (5) Pelibatan masyarakat bekas perambah sebagai pelaku utama dalam seluruh tahapan kegiatan restorasi ekosistem, (6) Pendampingan teknis pada seluruh tahap kegiatan restorasi ekosistem, (7) Keberlanjutan sumber pendanaan.

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

clear formSubmit