lanskap LambusangoHutan Lambusango adalah hutan alam dataran rendah yang terletak di tengah Pulau Buton. Selain memiliki kekayaan keragaman hayati endemik  kawasan Wallacea, hutan ini juga merupakan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) bagi sungai-sungai yang mengalir ke Pulau Buton bagian selatan. Hutan Lambusango (± 65,000 Ha) terdiri atas dua kawasan konservasi (±29,320 ha), yaitu Cagar Alam  Kakenauwe (± 810 ha) dan Suaka Margasatwa Lambusango (± 28,510 ha) yang dikelola oleh BKSDA Sultra (Departemen Kehutanan), dan ± 35,000 ha sisanya merupakan Hutan Lindung dan Hutan Produksi yang dikelola oleh Pemda Kabupaten Buton. Secara administratif hutan Lambusango masuk di wilayah Kecamatan Kapontori, Lasalimu, Lasalimu Selatan, Siotapina, Wolowa dan Pasarwajo, Kabupaten Buton, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).

Operation Wallacea Trust  yang kini berganti nama menjadi Operasi Wallacea Terpadu (OWT), sebuah LSM pelestarian alam dan lingkungan yang berdiri di Bau-Bau pada tahun 2004, mendapatkan pendanaan dari Global Environment Facility (GEF) untuk memfasilitasi Program Konservasi Hutan Lambusango (PKHL) dengan berkolaborasi dengan Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Sultra dan Pemda Kabupaten Buton. Program ini secara efektif berjalan dari Juni 2005 – Desember 2008.

Berikut adalah ringkasan kegiatan dan pencapaian PKHL:

  1. Telah terbangunnya Forum Hutan Kemasyarakatan Lambusango (FHKL) sebagai mitra pemerintah yang telah berperan aktif dalam (a) Memperkuat kebijakan penatakelolaan hutan; (b) Membangun gerakan pelestarian hutan; (c) Membangun pengamanan hutan berbasiskan masyarakat.
  2. Telah terbangunnya  model bisnis pedesaan sebagai alternatif matapencaharian masyarakat.  PKHL telah berhasil memfasilitasi Asosiasi Petani Mete di salah satu desa disekitar Hutan Lambusango (Desa Matanauwe, Asosiasi Petani Mete Matanauwe/APJMM) untuk mendapat Sertifikasi Fairtrade dari FLO, Jerman, dimana hal ini merupakan asosiasi petani pertama di dunia yang mendapatkan sertifikasi fairtrade untuk produk mete. Program ini telah dan sedang memfasilitasi perdagangan internasional untuk produk pertanian khususnya kacang mete dan kopi. Selain itu berbagai jenis bisnis pedesaan telah berhasil dikembangkan seperti pertanian jeruk, jahe, rumput laut, kerang mutiara, minyak kelapa dan sebagainya.  Tujuan akhir dari inisiasi ini adalah terbangunya kesepakatan masyarakat desa dalam pelestarian hutan.  Operation Wallacea Ltd bersama OWT kini sedang dan terus membantu petani di sekitar hutan untuk memasarkan hasilnya ke pasaran internasional (Wildlife Conservation Product/WCP).
  3. Telah terbangunnya Forum Sistem Informasi Geografis (FSIG) yang telah berhasil menarik investasi Pemda Buton untuk mengadakan peralatan GIS untuk pengadaan peta-peta digital mutakhir dan perencanaan tata ruang wilayah berbasis konservasi.
  4. Terbangunnya kolaborasi pengamanan hutan (Forest Crime Unit Lambusango/ FCUL)  telah berhasil membangun kesadaran hukum bagi masyarakat sekitar hutan dan melakukan penegakan hukum bagi pelaku illegal logging dan perambah hutan.
  5. Kegiatan kampanye melalui berbagai media (poster, sticker, dialog interactive di radio dan televisi lokal, lomba mengarang dan pidato) telah berhasil membangun kesadaran dan kebanggaan masyarakat Buton dan Sulawesi Tenggara terhadap keberadaan Hutan Lambusango.
  6. Terpublikasikannya Buletin Lambusango Lestari (13 edisi), buku-buku yang membahas keragaman hayati Hutan Lambusango, dakwah lingkungan dan pembangunan semangat nasionalisme lingkungan.
  7. Telah memfasilitasi pelaksanaan dan menyediakan bahan-bahan ajar muatan lokal pendidikan lingkungan hidup di tingkat SD dan SLTA untuk Kabupaten Buton dan Kota Bau-Bau.
  8. Telah memberikan bea-siswa kepada tiga orang mahasiswa PhD Indonesia (kuliah di Universitas Inggris) dan memfasilitasi kegiatan penelitian di Hutan Lambusango.
  9. Telah memberikan bea-siswa 45 orang mahasiswa/i S1 dan pelatihan bagi 97 orang siswa/i SLTA untuk melakukan survei keragaman hayati di Hutan Lambusango.
  10. Telah melakukan monitoring perubahan sosial-ekonomi masyarakat sebagai dampak keberadaan PKHL.
Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

clear formSubmit