TANJUNG REDEB, beritakaltim.co- Keberadaan objek wisata alam Hutan Lindung Sungai Lesan(HLSL) yang ada di wilayah Kecamatan Kelay memang menyimpan potensi yang sangat besar, bukan hanya menjadi sarana rekreasi namun keberadaan HLSL juga menjadi sarana wisata edukasi bagi wisatawan. Dimana di lokasi ini terdapat tumbuh tumbuhan langka serta berbagai macam jenis burung  yang saat ini nyaris punah.

 Namun, meski keberadaan objek wisata HLSL tersebut sangat potensial bagi peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), keberadaanya di nilai sejumlah kalangan belum terkelola dengan maksimal lantaran pemerintah daerah yang di nilai terlalu condong terhadap pengembangan wisata pesisir.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Berau, Mappasikra Mappaseleng membantah tudingan tersebut. Menurutnya pemerintah memang saat ini memberikan perhatian khusus terhadap pengembangan wisata bahari menyusul jumlah peminatnya yang sangat tinggi bahkan terus meningkat setiap tahunya.

“ Tudingan kita kurang perhatian terhadap potensi di wilayah pedalaman itu tidak benar, karena secara umum konsep pengembangan potensi wisata alam maupun bahari itu semua ada, tetapi kita tidak mampu bergerak dikarenakan kondisi keuangan yang memang tidak ada. Selain itu porsi perhatian wisata bahari itu memang masih lebih tinggi dari wisata alam karena  itu tadi jumlah peminatnya yang terus meningkat, sementara wisata HLSL itu semacam wisata khusus dan peminatnya juga khusus,” ujar mantan Kadistamben ini Senin (04/12)

 Namun, guna meningkatan wisatawan lokal untuk berkunjung ke hutan lindung ini, ia menyarankan agar pihak pengelola objek wisata HLSL mampu memberikan kesan yang mendalam bagi wisatawan yang datang seperti penyambutan serta pelaksanaan festival yang mampu menarik wisatan berkunjung

“Kalau bisa di Hutan Lindung Sungai Lesan itu di buatkan acara khusus setiap tahun yang di kelola masyarakat sekitar, seperti membuat Festival tari atau semacamnya yang di laksanakan di kampung terdekat untuk menarik minat wisatawan yang datang. Sehingga bukan hanya menikmati keindahan alam namun wisatawan juga akan mendapatkan wisata budaya dari masyarakat sekitar,” tambahnya

  Sementara terkait peningkatan sejumlah fasilitas pengunjung yang saat ini di nilai sangat minim, Mappasikra kembali meminta agar pihak pegelola berkoordinasi dengan kampung yangada di sekitar lokasi, agar dapat di anggarkan melalui dana desa.

Pemanfaatan dana desa sebagai pengembangan potnesi wisata saat ini sangat perlu di lakukan menyusul kondisi keuangan daerah yang tidak stabil,sehingga memang harus mandiri. Nantinya pemerintah akan mendukung memalui promosi wisata yang di lakukan di berbagai kegiatan lokal maupun nasional.

“ Kita mau bantu tapi kita tidak punya pos-pos anggaran sama sekali untuk itu karena defisit ini. Saya berharap  para Lembaga Swadaya Masyrakat (LSM) yang mengelola HLSL agar  mampu bekerja sama dengan kampung sekitar untuk peningkatan fasilitas seperti dermaga dan yang lain lain.Karena kaau mengahapakan pemerintah daerah akan sulit saat ini,” tandasnya. (adv/mar)

Sumber : http://beritakaltim.co/2017/12/05/pengembangan-wisata-harus-mandiri-karena-anggaran-defisit/

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

clear formSubmit

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.