Kawasan Hutan Lindung Sungai Lesan (HLSL) kondisinya memang masih cukup baik, namun kondisi di sekitarnya sudah memprihatinkan yaitu dikepung oleh beberapa perusahaan perkebunan kelapa sawit. Agar kondisi kawasan HLSL ini tetap terjaga dengan baik, maka perlu upaya-upaya perlindungan dan pelestarian.  Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk membantu keberlanjutan kelestarian HLSL adalah melalui pengembangan ekowisata. Keanekaragaman hayati dan kekayaan etnik budaya akan mendukung pengembangan ekowisata di Kampung Lesan Dayak sekalligus mewujudkan pengamanan Hutan Lindung Sungai Lesan.

Dalam kegiatan pendampingan pengembangan ekowisata beberapa capaian dan kendala yang dihadapi sampai dengan saat ini antara lain:

  • Survey Sumberdaya Ekowisata Kampung Penyangga Hutan Lindung Sungai Lesan (Kampung Lesan Dayak) dan kegiatan sosialisasi sadar wisata. Kegiatan ini bertujuan untuk mengidentifakasi potensi wisata kampung-kampung disekitara HLSL, penyadaran konsep ekowisata berbasis kampung dan konsep wisata secara luas, pengenalan konsep BUMKAM yang memiliki unit usaha wisata dan pemetaan fasilitas wisata untuk dijadikan potensi wisata kampung. Kampung dengan nilai potensi terbesar akan menjadi kampung tujuan utama untuk dijadikannya kawasan ekowisata kampung.

Beberapa potensi diantaranya:

  • Potensi alam yang dapat dikembangkan yaitu Hutan Lindung Sungai Lesan yang memiliki kergaman hayati yang tinggi baik jenis tumbuhan, burung, reptil, mamalia, dll.
  • Adanya potensi kebudayaan Dayak, seperti seni tari dan alat musik. Kesenian lainnya yaitu Bejiak (berbalas pantun), upacara adat seperti mplei jumplai, dan kerajinan tangan seperti ukiran dan gelang.

  • Potensi kuliner : Kopi Lesan Dayak, Kepurung atau Pagaluh, Lemang, Kue Dayak, Sayur Bening, Dendeng Ikan Salap, dan Sayur Ikan Bening.

  • Potensi gejala alam pemandangan matahari terbit dan terbenam merupakan hal menarik untuk dijadikan potensi tambahan. Potensi menara pandang untuk melihat matahari terbit dan terbenam di kawasan kampung, perbaikan dermaga untuk menjadi ruang terbuka hijau atau taman kampung dan dapat juga dipergunakan untuk perancangan restoran adat. Perbaikan kawasan pesisir sungai dengan pembangunan tempat duduk untuk menikmati keindahan Sungai Kelay. Kesenian, kerajinan, atau produk khas yang dimiliki oleh warga, seperti gendongan, kerajinan manik-manik, dan kerajinan rotan, serta kuliner khas harus segera dikembangkan menjadi produk lokal.

Potensi-potensi yang dimiliki tersebut jika dikembangkan dapat bernilai ekonomis dalam mendukung upaya konservasi Hutan lindung Sungai Lesan. Kedepannya pengembangan potensi ini akan dilembagakan kedalam unit pengelola ekowisata di bawah Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Keterbatasan Sumber Daya Manusia dan sarana komunikasi serta penerangan merupakan tantangan tersendiri dalam pengembangan ekowisata kawasan penyangga HLSL.

Sayangnya terbatasnya informasi di kampung tersebut menyebabkan bertukar pikiran hanya dapat dilakukan melalui informasi mulut ke mulut saja. Kalaupun ada televisi hanya dapat menyala dari pukul 18:00-23:00 WITA saja.  Melalui BUMDes/BUMKam sebagai lembaga pengelola ekowisata diharapkan informasi lebih lengkap tentang ekowisata dapat dijalankan, antara lain melalui media sosial,  bahan bacaan seperti majalah, koran leaflet serta poster-poster ajakan di tempat-tempat startegis di Kalimantan Timur, khususnya di Kab. Berau.

Penyadartahuan tentang pengelolaan wisata berbasis masyarakat telah dilaksanakan dari tanggal 24 – 31 Agustus 2018 dengan mengadakan diskusi dan pemutaran film tentang wisata setiap minggu pada hari Jumat malam. Kedepannya juga akan dilaksanakan peningkatan kapasitas terhadap unit usaha wisata dari BUMKam. Diharapkan dari usaha yang telah dilakukan dapat meningkatkan promosi dan pengamanan HLSL melalui pemanfaatan jasa lingkungan hutan untuk pengembangan wisata berbasis masyarakat.

Kekurangan yang dimiliki saat melakukan kegiatan pendampingan yaitu masyarakat belum memiliki keberanian dalam menjalankan kegiatan usaha ekowisata. Alasannya yaitu pemerintah kampung belum hadir dalam acara sosilalisasi sadar wiata yang dilakukan. Banyaknya potensi yang didapat namun banyak pula yang belum dapat dikemas menjadi usaha wisata, sehingga ke depannya perlu merencanakan agar masyarakat lebih berani dan bersedia untuk menjalankan usaha tersebut. Kekurangan lainnya yaitu minimnya jumlah pemuda, di samping itu banyak pemuda yang  memilih merantau atau ikut dengan pasangannya di luar kampung.  Untuk itu perlu strategi agar kampung menjadi tempat menarik bagi generasi muda untuk tetap tinggal di kampungnya.

Kegiatan pendampingan di Lesn Dayak juga telah memperoleh informasi daftar atraksi kebudayaan yang dapat ditampilkan dalam ekowisata. Tradisi budaya di Lesan Dayak sangat banyak macamnya, namun tradisi tersebut hanya aktif ketika ada event tertentu, bukan menjadi kebiasaan sehari-hari. Oleh karena itu perlu dibangkitkan kembali tradisi kebudayaan yang ada untuk persiapan ekowisata yang akan dimulai bersamaan dengan mulainya Musim Opwall pada bulan Juni-Juli 2019.

  • Telah terbentuk draft awal rute perjalan dan persinggahan ekowisata. Rute dibagi menjadi 2 kategori : 1) Rute untuk wisatawan Opwall ; 2) Rute untuk wisatawan non Opwall
  • Telah diperoleh informasi awal kemungkinan peluang pasar untuk produk dampingan dan informasi kemampuan produksi produk dampingan di masing-masing desa saat ini yaitu Jamur tiram: 10kg / panen; Lada: 30 kg setiap kali panen; Teh mangar: 50 kotak untuk 2 hari; sedangkan produksi kerajinan tas plastik: masif (masing-masing anggota kelompok membuat dirumah). Kapasitas produksi yang masih minim ini membuat strategi pemasaran saat ini hanya untuk kebutuhan daerah sekitar. Salah satu kendala minimnya kapasitas produksi ini disebabkan salah satunya adalah tumbuhan baru sperti lada sehingga masih baru berbuah, untuk teh mangar masih terhambat ijin BPOM untuk dapat ijin layak edar secara luas, Jamur tiram bibit yang tidak terproduksi secara berkelanjutan.
  • Saat ini juga telah mulai dipersiapkan rencana festival budaya yang akan di adakan di Lesan Dayak. Draft proposal untuk kegiatan festival budaya telah disusun dan telah dilakukan konsultasi dengan pihak Nemdoh Nemkay. Terdapat dua kali prosesi adat pernikahan di awal bulan agustus 2018 yang dapat didokumentasikan sebagai daya tarik wisata. Namun beberapa foto yang diambil masih belum maksimal
  • Dalam rangka memfasilitasi ijin pemanfaatan jasa linggkungan di HLSL saat ini telah disusun draft awal tulisan tentang prosedur perijinan Ijin Usaha Pemanfaatan Jasa Lingkungan (IUPJL) berdasarkan PP no 6 tahun 2007 tentang Tata Hutan. Namun kendala yang dihadapi adalah dalam mengurus perijinan IUPJL yang bisa mengajukan adalah lembaga berbadan hukum tetap seperti BUMDesa atau kelompok/forum yang memiliki legalitas badan hukum, untuk saat ini lembaga tersebut belum terbentuk dan kalaupun menggunakan BUMDesa maka perlu penguatan dan pendampingan selanjutnya dari pihak OWT.
Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

clear formSubmit

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.