Kolaborasi monitoring aktifitas pembukaan lahan baru PT GPM dengan COP dan Mongabay Indonesia

Kampung Merapun adalah salah satu lokasi dampingan OWT dalam project TFCA Kalimantan yang sebagian besar wilayahnya sudah ada izin perkebunan kebun kelapa sawit. Untuk strategi pendampingan masyarakat di kampung ini berbeda dengan kampung-kampung lain. Mengingat lokasi dan masyarakatnya yang berbeda dengan 3 lokasi lainnya, dimana masyarakatnya sudah banyak yang meninggalkan kebiasaan laman nenek moyang mereka sebagai pemburu dan peramu di hutan. Yang sekarang hutan mereka sudah berubah menjadi perkebunan kelapa sawit. Salah satu strategi pendampingannya dengan melakukan kampanye-kampanye dan juga langsung dilakukan pada kelompok perempuan. Misalnya dengan mengelola sampah jadi kerajinan, pembuatan usaha teh mangar dan lain-lain. Dari segi pendampingan disisi pemerintahan juga telah dilakukan dengan bekerjasama dengan pihak perusahaan yang mempunyai kemampuan dalam membantu meningkatkan kapasitas mereka. Masyarakat kampung Merapun awalnya tertarik dengan masuknya sawit karena janji-janji kesejahteraan dari pihak perusahaan. Namun dari perjalanannya saat ini hanya sebagian saja yang dapat merasakan kebaikan masuknya sawit. Mereka adalah hanya elit-elitnya saja seperti pemerintahan kampun dan para tokoh-tokohnya. Banyak masyarakat kampung hanya menjadi kuli dari perushaan sawit yang masuk. Ini jelas tidak memberikan dampak positif bagi semua. Selain itu lokasi perkebunan sawit yang mempunyai izin banyak yang tidak sesuai dengan aturan yang berlaku. Ditambah lagi dengan kurangnya pengawasan dari pemerintah membuat kampung ini menjadi lokasi kurang aman bagi satwa yang dilindungi seperti orangutan dan satwa lainnya. Ini dikarenakan bukaan lahan perkebunan sawit yang hampir memusnahkan semua hutan baik yang telah tumbuh ratusan tahun menjadi perkebunan kelapa sawit. Jika dilihat dari sisi ekonomi hal ini akan meningkatkan devisa negara namun yang menikmatinya hanya segelintir orang saja. Sedangkan masyarakatnya hanya menjadi pekerja kasar di tanah mereka. Masalah lingkungan yang timbul juga akan banyak terjadi. Misalnya sungai tercemar dan tidak sejernih dengan adanya hutan. Bisa dipastikan satwa yang dulu mendiami hutan yang lebat tersebut akan hilang dan itu menjadi kerugian besar ditambah kerugian-kerugian lainnya yang menjadikan kita harus mempertanggungjawabkannya kepada generasi yang akan dating. Mereka akan merasakan kegerahan dan panasnya tanpa adanya kesejukkan oksigen dari hutan alam yang memberikan efek keselamatan bagi manusia dan bumi.

Gambar  2‑11 Lokasi bukaan baru PT GPM tahun 2019 kelihatan dari jauh yang didokumentasikan oleh Mongabay Indonesia

Dari situasi yang tergambar di lapangan memang harus ada yang memberikan penerangan kepada masyarakat tentang kondisi yang mereka hadapi saat ini dimana hutan yang dulu banyak memberi manfaat kepada kalangan kecil sekarang tidak lagi karena hutan tersebut lambat laun akan hilang dari kampung mereka yang digantilkan perkebunan kelapa sawit.

Kegiatan ini dilakukan pada tanggal 19 Februari 2019 bersama COP dan Mongabay Indonesia dengan  tujuan memonitoring  aktifitas pembukaan lahan baru PT GPM yang bersebela\han dengan HLSL. Selain itu kegiatan ini juga bertujuan untuk memastikan lokasi tersebut belum menyentuh kawasan Hutan Lindung Sungai Lesan.

Gambar  2‑12 Lokasi bukaan baru PT GPM tahun 2019 (a) didalamnya terdapat beberapa sarang orangutan dan ini dicurigai sebagai habitat orangutan (b) ditemukan orangutan 3 individu yang terdiri dari anak, dan 2 induknya

Sebelum melakukan kegiatan monitoring ini OWT dan COP telah berkoordinasi dan mengetahui adanya aktivitas baru di area izin PT Global Primatama Mandiri anak perusahaan dari Palma Serasih Group. Izin dari perusahaan ini adalah perkebunan kelapa sawit yang mempunyai lahan dibeberapa tempat. Konsesi mereka seluas ± 7000 ha. Yang mereka telah buka sejak tahun 2016 dan sekarang melakukan land clearing yang sudah mendekati batas dengan Hutan Lindung Sungai Lesan. Hal ini cukup mengkhawatirkan jika tidak ada pengawasan dan peninjauan karena dikhawatirkan akan adanya pekerja yang tidak mengikuti aturan dan masuk pada kawasan HLSL. Kegiatan monitoring di lapangan ini bertujuan untuk melihat kondisi lahan mereka tersebut. Apakah lokasi tersebut sebagai habitat orangutan atau tidak, karena dicurigai lokasi tersebut merupakan habitat orangutan yang ditunjukkan banyaknya orangutan yang ditemukan dipinggir jalan lokasi tersebut. Jika lokasi tersebut adalah habitat orangutan maka aktivitas pembukaan lahan akan menyebabkan terganggunya orangutan dan satwa lainnya. Kegiatan monitoring dimulai dengan memasuki lokasi izin perusahaan yang baru saja dibuka atau melakukan pembersihan lahan. Lokasi ini masih menyimpan banyak pohon-pohon yang cukup besar dan dari monitoring terdapat banyak sarang orangutan baik yang masih baru maupun yang sudah lama. Berdasarkan keberadaan sarang tersebut patut dicurigai bahwa lokasi tersebut merupakan habitat orangutan. Tim yang terdiri dari 4 orang ini awalnya masuk melalui jalur camp yang didalamnya terdapat alat-alat berat yang digunakan untuk melakukan land clearing lokasi penanaman kelapa sawit. Di lokasi tersebut lahannya sudah bersih dari pepohonan hanya sebagian kecil yang masih berdiri, pohon-pohon yang masih berdiri berada di lembah-lembah, dan dipinggir sungai kecil. Pohon tersebut beberapa terdapat sarang orangutan yang masih abaru dan sudah lama. Ini menunjukkan lokasi tersebut merupakan habitat orangutan.Setelah melakukan monitoring di satu titik lokasi pembersihan lahan tim berpindah ke lokasi lain yang lokasinya sudah sangat gersang karena tidak ada lagi pohon yang berdiri dan di lokasi tersebut tanahnya miring dan menyulitkan tim menuju ke tempat tersebut. Tim juga menerbangkan drone untuk melihat kondisi lokasi tersebut lebih baik. Dari gambar drone terlihat lokasi yang telah dibersihkan dengan alat berat berwarna merah tanpa ada lagi tanaman di atasnya. Jika kondisi seperti ini dating hujan maka dipastikan akan terjadi penggerusan air yang dapat menyebabkan lokasi tersebut bertambah gersang dan air yang turun ke sungai menyebabkan sungai menjadi keruh dan mengalami pendangkalan. Di lokasi lain tim menemukan kumpulan bekas tebangan yang kayunya sudah diangkut. Dari lokasi tersebut tim menuju ke titik lain yang masih ada pohon dan belum dilakukan penebangan yang ternyata di lokasi tersebut ditemukan 3 individu orangutan yang terdiri dari jantan, betina dan anaknya. Mereka bergelantungan di pohon yang nantinya akan di tebang karena masih dalam konsesi perusahaan. Hal ini sangat mengkhawatirkan yang mana lokasi tersebut akan bersih dari pepohonan dan orangutannya susah mendapatkan tempat tinggal lagi dan mungkin akan menjadi hama bagi sawit yang ditanam nantinya. Dengan adanya bukti orangutan di lokasi tersebut sudah sangat bisa dipastikan bahwa lokasi tersebut merupakan habitat orangutan.  Ketika perjalanan pulang ditemukan pula sarang orangutan yang dirobohkan oleh alat berat. Hal ini dicurigai bahwa dalam melakukan pembersihan lahan banyak sarang orangutan yang dihancurkan untuk menutupi fakta bahwa lokasi tersebut memang habitat orangutan yang tidak boleh dibuka untuk lahan perkebuanan kelapa sawit. Inilah beberapa bukti yang akan di dorong COP agar lokasi tersebut tidak lagi dibuka karena ternyata lokasi tersebut tidak layak dibuka dan melanggar aturan terutama aturan tentang konservasi satwa. Sedangkan dari pihak OWT akan mendorong  adanya koridor orangutan yang lokasinya berbatas dengan izin perusahaan PT GPM tersebut. Koridor tersebut akan menghubungkan HLSL dan hutan yang memiliki izin HPH dan Hutan Lindung Wehea yang masuk wilayah kabupaten Kutai Timur. Diharapkan adanya monitoring seperti ini laporannya di lapangan akan menjadi bahan pertimbangan bagi para pengambil kebijakan dalam penetapan Koridor HLSL dan pemberian izin konsesi sawit disekitar HLSL.

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

clear formSubmit

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.